Pagi hari ini menyampaikan kuliah tentang pariwisata berkelanjutan di kelas 24B. Materinya tentang pariwisata berkelanjutan, jadi tentu saja kita harus nyenggol tentang pembangunan berkelanjutan. Jadi apa itu Pembangunan berkelanjutan?
Secara ringkas menurut para ahli....
“sustainable development is one that meets the needs of the present without comprimising the ability of the future generations to meet their own need”
Jadi dalam konsep berkelanjutan ini, ada tiga pilar yang harus berdiri kokoh secara seimbang, yaitu Lingkungan, Sosial Budaya, dan Ekonomi. Penjelasan yang saya sampaikan kemudian sampai pada slide presentasi berikut ini...
Nah, muncullah bahasan tentang "Sampah".
Apa itu sampah?
Saya minta mahasiswa menyampaikan pendapatnya tentang apa itu sampah?
"Sampah itu adalah barang yang sudah tidak berguna lagi Pak" kata satu mahasiswa.
"Ambil contoh ya", saya bilang. "Ada gayung dikamar mandi yang pecah dikamar mandi, lalu saya letakkan di lemari kaca, apakah itu sampah?"
"Karena sudah tidak berguna Pak", kata mahasiswa.
"Tapi kan saya letakkan di lemari kaca untuk jadi hiasan, berarti masih ada gunanya kan? Berarti bukan sampah kan?"
Saya lanjutkan, "Menurut saya, sampah itu adalah sesuatu yang tidak berada pada tempatnya!"
Satu mahasiswa menyahut, "kalau ada sampah di tempat sampah, berarti barang itu berada di tempatnya Pak. Berarti barang itu bukan sampah, karena berada di tempatnya?
Saya pikir, ini menjadi sebuah paradoks. Untuk beberapa detik, saya panik didalam kepala. Betul juga ya.
Mungkin diskusi ini tidak terlalu penting, tapi bagi saya menarik. Dengan sedikit berkelit, konsep tentang sampah yang saya sampaikan diterima oleh para mahasiswa (mungkin dengan terpaksa).
Tema pembicaraan ini saya bawa ke rumah dan saya diskusikan dengan Dinda.
"Apa itu sampah?" tanya saya kepada Dinda.
"Sampah adalah sesuatu yang sudah tidak lagi berguna. Bukan karena tempatnya."
Diskusi ini memercik sedikit ketegangan dan mulai bergerak kearah debat, Dinda memberi sinyal untuk mengakhiri diskusi tersebut. Saya juga tidak melanjutkannya, dengan Dinda.
Saya melanjutkannya di kepala sendiri.
Diskusi tersebut sampai pada pemikiran bahwa apa yang dikatakan Dinda betul, namun apa yang menjadi pendapat saya juga tidak salah.
Saya membayangkan sebuah sekrup. Saat sekrup itu menjadi bagian dari sebuah mesin, maka maka sekrup tersebut "Masih berguna dan berada di tempatnya!", maka dia bukan sampah. Jika dia tidak berada ditempatnya, dia menjadi tidak berguna, sehingga bisa kita katakan sekrup tersebut telah menjadi sampah.
Bagaimana menurut pembaca yang budiman, apa itu sampah?
Post a Comment for "Sampah, apakah soal guna atau soal tempat?"