Bukit Sepancong (atau yang area puncaknya juga kerap disebut Sepadang Hill) merupakan salah satu objek wisata alam yang relatif populer di Kalimantan Barat. Bukit ini berdiri di wilayah Desa Cipta Karya, Kecamatan Sungai Betung, Kabupaten Bengkayang. Wilayah Desa Cipta Karya berjarak sekitar 63 km dari Singkawang. Kawasan ini sangat menarik karena tidak hanya menawarkan visual alam yang indah, tetapi juga memperlihatkan perpaduan antara pelestarian keanekaragaman hayati dan tata kelola pariwisata berbasis masyarakat yang berjalan dengan baik.
Sebelas Oktober 2025 saya bersama beberapa orang mahasiswa dari Politeknik Negeri Sambas melakukan pendakian ke Bukit Sepancong. Sebagian peserta berangkat dari Sambas, sedangkan saya bersama dua orang mahasiswa telah berada lebih dulu di Singkawang karena malam sebelumnya kami camping di Bukit Tanjung Gundul atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan Bukit Su Saleh. Rombongan berkumpul di Warung Kopi Rusen Singkawang yang berada di pusat Kota Singkawang, dari sana kami bergerak ke arah Desa Cipta Karya.
Setelah sampai di pemukiman penduduk yang berada di kaki bukit, kami mengurus administrasi pendakian. Tidak seperti tempat-tempat wisata petualangan yang pernah saya kunjungi sebelumnya, ada yang lain dengan pengelolaan Bukit Sepancong. Ada aturan tertulis di objek wisata ini, yaitu pengunjung tidak dibolehkan membawa air minum dalam kemasan komersial. Jika pengunjung membawa botol air kemasan, maka harus dipindahkan ke jerigen yang disewakan oleh pengelola.
Menyelesaikan urusan air, kami mulai mendaki ke Bukit Sepancong. Pendakian memakan waktu hampir dua jam, kami sampai menjelang jam 5 sore saat langit di arah Gunung Bawang terlihat berkabut oleh air hujan yang tampak seperti tumpah. Kami segera bergegas mendirikan shelter untuk berlindung, utamanya agar barang-barang yang kami bawa bisa terlindung dari air.
Keesokan paginya kami sempat bersantai menikmati kopi sambil melihat pemandangan.
Kondisi Lanskap dan Keanekaragaman Hayati
Berada di ketinggian sekitar 400 hingga 500 meter di atas permukaan laut (mdpl), lanskap Bukit Sepancong menawarkan variasi ekosistem yang cukup kaya dalam satu jalur pendakian:
Tutupan Vegetasi: Jalur pendakian yang memakan waktu sekitar 1 hingga 2 jam ini akan melewati rimbunnya hutan bambu dan kawasan konservasi taman anggrek alami. Menjelang puncak, tutupan tegakan pohon mulai menjarang dan digantikan oleh hamparan padang ilalang yang terbuka (area Sepadang Hill).
Flora dan Fauna: Kawasan hutan di sekitar bukit masih asri dan menjadi habitat bagi berbagai fauna liar seperti kijang, babi hutan, tupai, serta ragam spesies burung dan kupu-kupu. Secara flora, kawasan ini ditumbuhi pohon buah lokal bernilai ekonomi seperti durian dan jengkol.
Sumber Air Pegunungan: Terdapat sumber mata air alami yang mengalir jernih melintasi jalur pendakian. Air ini sangat bersih dan kerap dimanfaatkan oleh para pendaki untuk minum atau memasak tanpa harus membawa terlalu banyak bekal air dari bawah.
Daya Tarik Visual dan Fotografi Alam
Bagi pegiat fotografi alam dan lanskap, Bukit Sepancong adalah lokasi hunting visual yang menjanjikan. Dari area puncak, pengunjung disuguhkan panorama 360 derajat yang langsung berhadapan dengan kemegahan Gunung Bawang, serta deretan bukit lain seperti Bukit Jamur dan Bukit Gampo.
Daya tarik utama bukit yang cocok untuk kalangan yang baru mulai hobi mendaki ini ada pada pagi hari. Kawasan puncak bukit ini sering kali diselimuti kabut tebal yang menciptakan ilusi visual layaknya "negeri di atas awan", berpadu dengan momen matahari terbit (sunrise) yang menghangatkan padang ilalang.
Tata Kelola Ekowisata Berbasis Masyarakat
Pengembangan Bukit Sepancong adalah contoh menarik dari praktik pariwisata yang memperhatikan aspek keberlanjutan. Kawasan wisata ini dikelola langsung secara swadaya oleh masyarakat setempat melalui Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Desa Cipta Karya.
Pemberdayaan Ekonomi Lokal: Tanpa harus merusak hutan, masyarakat lokal mendapatkan nilai tambah ekonomi dengan menyediakan fasilitas camping ground, jasa pemandu (guide), jasa angkut barang (porter), penyewaan tenda, hingga homestay di titik kumpul bawah.
Fokus pada Konservasi: Pokdarwis memberlakukan aturan ketat bagi pengunjung untuk tidak merusak flora, terutama menjaga kelestarian taman anggrek di sepanjang jalur, dan sangat menjaga kebersihan lingkungan dari sampah para pendaki.
Post a Comment for "Refreshing ke Bukit Sepancong, Bengkayang"